Viral Balita Diminta Diturunkan karena Tak Punya Tiket, BPKA Sulsel: Petugas Bukan dari Internal Kami

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Threads
Pinterest
Telegram

Mediapasti.com – Balai Pengelola Kereta Api Sulawesi Selatan (BPKA Sulsel) akhirnya buka suara terkait viralnya video yang menunjukkan seorang petugas kereta api meminta balita ditinggal di Stasiun Mandai, Kabupaten Maros, karena tidak memiliki tiket.

Kepala BPKA Sulsel, Deby Hospital, menegaskan bahwa petugas yang terlibat bukan merupakan pegawai internal mereka.

“Berdasarkan hasil penelusuran internal, diketahui bahwa petugas tersebut adalah karyawan dari PT Angkasa Pura Support (APS), mitra kerja kami yang bertugas di area layanan stasiun sebagai bagian dari tim pendukung operasional,” kata Deby dalam siaran pers pada Rabu (25/6/2025).

Langkah Tindak Lanjut dan Evaluasi Prosedur

BPKA Sulsel memastikan bahwa insiden ini ditangani secara menyeluruh.

Langkah-langkah yang diambil mencakup:

  • Penelusuran kronologi secara objektif
  • Evaluasi terhadap prosedur pelayanan penumpang
  • Penerapan sanksi disipliner jika ditemukan pelanggaran etika atau standar layanan

“Kami juga telah meminta PT APS untuk segera mengambil tindakan korektif. Ini termasuk pembinaan langsung serta penjatuhan sanksi sesuai aturan internal kepada petugas yang bersangkutan,” tegas Deby.

Pelatihan Ulang dan Peningkatan Pelayanan

Sebagai bentuk perbaikan jangka panjang, BPKA Sulsel meminta PT APS menyelenggarakan pelatihan ulang (refreshment training) bagi seluruh personel.

Fokus pelatihan tersebut meliputi:

  • Pelayanan prima dan profesional
  • Keramahan dalam menghadapi pelanggan
  • Penerapan nilai-nilai hospitality

Evaluasi sistem boarding dan pemeriksaan tiket di seluruh stasiun juga tengah dilakukan guna menjamin proses pelayanan yang adil, aman, dan nyaman serta mencegah insiden serupa terulang di masa depan.

Imbauan kepada Penumpang dan Tanggapan atas Kritik

Pihak BPKA Sulsel turut mengimbau para penumpang untuk mematuhi seluruh ketentuan perjalanan, termasuk kewajiban kepemilikan tiket untuk anak-anak.

Hal ini demi menjaga keselamatan, ketertiban, dan kelancaran perjalanan bersama.

Baca Juga :   Kali Skunder Gamprit Kp Gandu Sukatani Di Normalisasi

“Kami sangat menghargai kritik dan masukan dari masyarakat. Itu menjadi motivasi penting bagi kami untuk terus mengembangkan layanan transportasi publik yang inklusif, aman, dan manusiawi,” ujar Deby.

Kronologi: Petugas Diminta Tiket Tambahan tapi Menolak

Sebelumnya, media sosial dihebohkan oleh video yang menunjukkan seorang penumpang kereta api mengamuk setelah anak balitanya dilarang naik kereta karena tidak memiliki tiket.

Dalam video yang pertama kali diunggah di Instagram oleh akun @dae*******, pihak keluarga mengaku telah memohon kepada petugas agar diberikan tiket tambahan, bahkan bersedia membayar berapa pun harganya.

Namun, petugas disebut menolak permintaan tersebut dengan mengatakan bahwa tiket sudah habis.

Lebih lanjut, narasi dalam video menyebut petugas sempat melontarkan pernyataan yang dinilai tidak manusiawi: “Tidak bisa berangkat ini anak, tiket sudah habis. Simpan saja ini anak di sini.”

Unggahan tersebut kemudian menyebar luas dan menuai kecaman dari warganet karena dianggap tidak empatik dan tidak profesional.

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Threads
Pinterest
Telegram

Tinggalkan Balasan

Ikuti Kami :

Berita Serupa

Berita Terbaru

Twitter Kami

Load More

Tag Berita