Stasiun televisi pemerintah Iran mengumumkan 40 hari masa berkabung dan tujuh hari libur nasional menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Saluran berita IRINN menayangkan foto foto Khamenei dengan lantunan ayat suci Al-Quran sebagai latar, disertai pita hitam di pojok kiri atas layar.
‘Penyiar membacakan pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) yang secara resmi mengonfirmasi kematian Khamenei dan menuding Amerika Serikat serta Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Dalam pernyataan itu, Khamenei disebut wafat sebagai “martir” yang akan menjadi awal dari “kebangkitan dalam perjuangan melawan para penindas.”
Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa putri Khamenei, menantunya, serta seorang cucunya turut tewas dalam serangan tersebut.
Kantor berita Fars, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), juga memberitakan bahwa salah satu menantu perempuan Khamenei tewas.
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mengklaim bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei telah “tewas” dalam “operasi tempur besar-besaran”, Sabtu waktu setempat (28/02).
Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan “Khamenei salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah tewas”.
Lebih lanjut ia menulis, “Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi semua warga Amerika yang hebat,” katanya. “Ini adalah kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali negaranya,” tambahnya.
Perdana Menteri Israel sebelumnya juga membuat klaim serupa apa yang ia sebut “muncul tanda-tanda” Khamenei telah “tewas”.
Juru bicara Bulan Sabit Merah di Iran, Mojtaba Khaledi, mengatakan sebanyak 201 orang meninggal dunia akibat serangan. Adapun 747 lainnya mengalami luka-luka.
Khaledi menambahkan, sebanyak 24 provinsi dari 31 provinsi di Iran telah diserang.
Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 85 orang tewas akibat serangan Israel yang menghantam sebuah sekolah dasar di Minab, wilayah selatan Iran. BBC belum dapat memverifikasi laporan tersebut.
Trump menyatakan AS telah melancarkan “operasi tempur besar-besaran” di Iran.
Israel, menurut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menjalankan operasi tersebut bersama AS untuk “menyingkirkan rezim teroris di Iran”.
Citra satelit tunjukan kehancuran di kediaman Khamenei
Citra satelit menunjukkan kerusakan pada kompleks kediaman Pemimpin Tertinggi di Tehran, Ayatollah Ali Khameneisetelah serangan gabungan dari AS dan Israel.
Gambar “sebelum dan setelah” kini memperlihatkan sejauh mana kerusakan tersebut.
Setelah serangan, bangunan-bangunan tampak menghitam dan puing-puing terlihat, dengan asap yang membubung tinggi. Trump dan Netanyahu mengklaim Khamenei tewas dalam serangan.

Trump mendesak warga Iran memanfaatkan serangan besar besaran terhadap Iran untuk menggulingkan kelompok ulama yang memerintah negara itu.
“Ketika kami selesai, ambil alihlah pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian. Ini mungkin satu satunya kesempatan kalian dalam beberapa generasi,” ujarnya.
Ia juga mengatakan kepada anggota pasukan keamanan Iran bahwa mereka akan diberi “imunitas” apabila meletakkan senjata. Jika tetap bertempur, lanjut Trump, mereka akan “menghadapi kematian yang pasti”.
Hal senada diucapkan Netanyahu.
“Waktunya telah tiba bagi seluruh kelompok masyarakat Iran—bangsa Persia, Kurdi, Azeri, Baluchi, dan Ahwazi — untuk melepaskan diri dari belenggu tirani dan mewujudkan Iran yang bebas dan damai,” kata Netanyahu.

Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif.
“Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” sebut Kemlu Indonesia.
Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah pernyataan menyebut bahwa Iran mengetahui “niat” Amerika Serikat dan Israel untuk melancarkan serangan. Meski demikian, pemerintah Iran tetap memilih untuk melanjutkan proses negosiasi.
Pernyataan itu juga mengakui bahwa serangan terjadi “ketika Iran dan Amerika Serikat sedang berada di tengah proses diplomatik”.
Putaran ketiga pembicaraan nuklir tidak langsung antara Iran dan AS digelar dua hari lalu, pada 26 Februari, di Jenewa, Swiss—tanpa menghasilkan terobosan.
Iran dan AS sebelumnya juga telah mengadakan lima putaran perundingan pada Mei 2025, namun tidak membuahkan kemajuan.
Putaran keenam yang dijadwalkan berlangsung pada Juni 2025 dibatalkan setelah Israel melancarkan serangan mendadak terhadap target target Iran, yang kemudian memicu konflik 12 hari. Saat itu, AS menggempur tiga lokasi nuklir utama Iran.
Apa yang terjadi?
Sesaat setelah pukul 09:30 waktu Teheran (13.00 WIB), kantor berita Fars di Iran melaporkan bahwa ledakan terdengar di Kota Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah, serta di ibu kota Teheran.

Ledakan tampaknya juga menyasar Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Cuplikan video dari Teheran yang telah diverifikasi BBC memperlihatkan ledakan terjadi dalam radius 1 km dari kompleks kediaman Khamenei.
Citra satelit juga menunjukkan kerusakan signifikan di dalam kompleks tersebut, termasuk bangunan yang menghitam, puing puing, serta kepulan asap.
Foto foto yang dilihat BBC menunjukkan asap membubung di kawasan Jomhouri Square dan Hassan Abad Square, Kota Teheran.

Kantor Presiden Masoud Pezeshkian di Teheran juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Stasiun televisi pemerintah Iran menyatakan bahwa Presiden Pezeshkian “selamat”. Dia kemudian merilis pernyataan yang mengecam serangan terhadap sekolah di Minab sebagai “tindakan brutal.”
Seorang pejabat militer Israel kemudian memberi pengarahan kepada media bahwa pasukan Israel dan AS melancarkan gelombang awal serangan “berskala luas” terhadap “ratusan target.”
Di antara target tersebut, kata mereka, terdapat tiga pertemuan pejabat senior Iran, dan “sejumlah tokoh penting yang berperan dalam pengelolaan kampanye dan pemerintahan rezim telah dieliminasi.”

Sejumlah instalasi militer di Kermanshah, Qum, Isfahan, Tabriz dan Karaj, serta fasilitas Angkatan Laut Iran di Kenarak, wilayah selatan negara itu, juga dilaporkan terkena serangan.
Sebuah video dari kota kecil Kamyaran, di wilayah Kurdistan, menunjukkan sebuah pangkalan Korps Garda Revolusi dihantam bom.
Kantor berita Tasnim menyatakan bahwa wilayah udara Iran telah ditutup sejak serangan terjadi.

Di Iran, respons terhadap serangan tersebut sangat beragam.
Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan warga di dekat lokasi ledakan berlarian panik, diiringi teriakan dan tangis.
Namun pada saat yang sama, muncul pula rasa lega dan sebagian tampak merayakan serangan itu lantaran mereka meyakini bahwa kejatuhan rezim hanya bisa terjadi melalui intervensi militer.
Banyak warga telah lama menduga kemungkinan adanya serangan AS. Reaksi masyarakat Iran pun terbelah.
“Jika saya mati, jangan lupakan bahwa kami juga ada—mereka yang menolak serangan militer, mereka yang akan menjadi angka semata dalam laporan korban jiwa,” tulis seorang warga Iran di media sosial.

















