Fenomena Harga Plastik Naik Imbas perang, Para Pedagang UMKM Terbebani

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Threads
Pinterest
Telegram

KALANGAN pedagang kecil dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Yogyakarta mengkhawatirkan harga kemasan plastik yang belakangan terus meroket tajam.

Kenaikan harga yang terjadi secara merata di tingkat distributor dan grosir ini memaksa para pedagang mengambil langkah sulit. Mulai dari menaikkan harga jual dagangan, mengurangi porsi, hingga membebankan biaya tambahan kantong plastik kepada konsumen.

“(Harga kemasan plastik) itu naik di semua distributor, mulai terasa naiknya seminggu setelah ramai berita perang (Amerika-Iran) itu,” ujar Rosi, pedagang jajanan dan jus keliling yang biasa beroperasi di kawasan Jalan Malioboro, Yogyakarta, Selasa, 7 April 2026.

Ia mengungkapkan kenaikan harga kemasan plastik terjadi secara menyeluruh di semua toko grosir dan mencakup seluruh jenis produk kemasan. 

Rosi mencontohkan, untuk dagangan jus buahnya yang memakai botol sekali pakai, mengalami kenaikan mencapai Rp 20 ribu per lusin. Sementara kemasan thinwall untuk wadah sayur atau lauk melonjak hingga Rp 40 ribu.

Situasi ini memaksanya untuk menaikkan harga per botol jus sebesar Rp 2 ribu per botol demi menutup modal, sembari terus memberikan pengertian kepada pelanggannya.

Adapun Yanti, yang merupakan pedagang jajan pasar keliling di area yang sama menyebut kenaikan harga ini sebenarnya sudah merayap sejak sebelum Idul Fitri atau awal Maret lalu.

Namun, saat ini lonjakan tersebut sudah mencapai hampir 100 persen, di mana satu pack kantong plastik tenteng kecil yang yang semula Rp 3 ribu kini menjadi Rp 6 ribu, dan plastik tenteng sedang naik dari Rp 5 ribu menjadi Rp 9 ribu.

“Hari ini saja harganya naik lagi Rp 2 ribu,” kata Yanti.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yuna Pancawati mengungkap persoalan ini telah menjadi atensi nasional sejak akhir Maret 2026.

Data Disperindag menunjukkan adanya lonjakan harga hingga dua kali lipat, seperti gelas cup UMKM yang semula Rp 220 menjadi Rp 440 per buah. Yuna menjelaskan bahwa gangguan logistik global akibat situasi geopolitik menyebabkan produksi hulu plastik domestik merosot hingga sepertiga kapasitas, yang memicu penyesuaian harga seragam dari tingkat pabrik hingga pedagang.

“Lonjakan harga kemasan plastik nyaris 100 persen, kantong kresek juga naik hampir dua kali lipat,” kata Yuna.

Sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah Provinsi DIY melalui Disperindag mulai menyiapkan langkah pendampingan bagi para pelaku UMKM untuk beralih ke kemasan ramah lingkungan.

Langkah ini mencakup skema pembelian kolektif langsung ke produsen lokal untuk memotong rantai distribusi serta pemanfaatan serat alam lokal seperti mendong, pandan, dan kelapa. 

“Kami mendorong penggunaan kemasan berbasis kearifan lokal seperti serat alam seperti mendong, pandan, kelapa yang melimpah di DIY sebagai pengganti plastik pelapis atau wadah,” kata Yuna. 

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Threads
Pinterest
Telegram

Tinggalkan Balasan

Ikuti Kami :

Berita Serupa

Berita Terbaru

Tag Berita