• https://www.langdonparkatwestcovina.com/
  • Mbokslot
  • https://data.pramukajabar.or.id/
  • http://103.206.170.246:8080/visi/
  • https://siakad.stkippgri-bkl.ac.id/
  • https://lms.rentas.co.id/
  • https://siakad.stkippgri-bkl.ac.id/pengumuman
  • https://yahooo.co.com/
  • https://pmb.stkippgri-bkl.ac.id/info-prodi
  • https://sptjm.lldikti4.id/banner/
  • mbokslot
  • https://solarcity.vn/mua/
  • https://ppm-rekrutmen.com/antam/
  • https://sptjm.lldikti4.id/storage/
  • https://www.langdonparkatwestcovina.com/floorplans
  • https://silancar.pekalongankota.go.id/newsilancar/
  • https://app.mywork.com.au/login
  • https://dms.smhg.co.id/assets/js/hitam-link/
  • https://aeress.org/noticias/
  • https://rsupsoeradji.id/
  • slotplus777
  • https://ibs.rshs.or.id/operasi.php
  • https://tpfx.co.id/jurnal/
  • Mbokslot
  • http://103.81.246.107:35200/templates/itax/-/mbok/
  • https://alpsmedical.com/alps/
  • https://pastiwin777.cfd/
  • https://elibrary.rac.gov.kh/
  • https://heylink.me/Mbokslot.com/
  • https://sman2situbondo.sch.id/
  • https://www.capitainestudy.fr/quest-ce-que-le-mba/
  • admin Dayan – Laman 5 – Mediapasti.com

    Penulis: admin Dayan

    • Viral Kasus File Epstein File, Ribuan Dokumen Ditarik dari Publikasi Setelah Identitas Korban Terungkap

      Viral Kasus File Epstein File, Ribuan Dokumen Ditarik dari Publikasi Setelah Identitas Korban Terungkap

      Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) menghapus ribuan dokumen terkait Jeffrey Epstein atau dikenal pula sebagai Epstein Files dari situs resminya setelah para korban menyatakan bahwa identitas mereka terekspos akibat kesalahan dalam proses penyuntingan (redaksi).

      Para pengacara korban Epstein menyatakan bahwa redaksi yang cacat dalam dokumen yang dirilis pada Jumat (30/1/2026) telah “membalikkan kehidupan” hampir 100 penyintas. Dalam dokumen tersebut, tercantum alamat email serta foto telanjang yang memungkinkan nama dan wajah korban potensial dikenali.

      Para penyintas mengeluarkan pernyataan bersama yang menyebut pengungkapan tersebut sebagai tindakan “keterlaluan”. Mereka menegaskan bahwa para korban seharusnya tidak “disebutkan namanya, disorot, dan kembali mengalami trauma”.

      DOJ seperti dikutip dari laporan BBC menyatakan telah menurunkan seluruh dokumen yang ditandai bermasalah dan menjelaskan bahwa hal itu terjadi akibat “kesalahan teknis atau kesalahan manusia”.

      Dalam surat yang diajukan kepada hakim federal pada Senin, DOJ menyatakan, “Seluruh dokumen yang diminta oleh para korban atau kuasa hukum untuk dihapus hingga tadi malam telah diturunkan untuk dilakukan redaksi ulang.”

      Kementerian tersebut juga menyampaikan bahwa pihaknya terus meninjau permintaan baru, sekaligus memeriksa apakah masih ada dokumen lain yang memerlukan redaksi tambahan. Selain itu, DOJ menambahkan bahwa “sejumlah besar” dokumen lain yang diidentifikasi secara independen juga telah dihapus.

      Berdasarkan ketentuan rilis dokumen—yang diwajibkan setelah kedua kamar Kongres AS menyetujui undang-undang yang memaksa DOJ mempublikasikannya—pemerintah federal diwajibkan menyunting atau menyamarkan informasi yang dapat mengidentifikasi korban.

      Pada Jumat lalu, dua pengacara yang mewakili korban Epstein meminta seorang hakim federal di New York untuk memerintahkan DOJ menurunkan situs web yang memuat dokumen-dokumen tersebut. Mereka menyebut rilis itu sebagai “pelanggaran privasi korban paling parah dalam satu hari sepanjang sejarah AS”.

      Kedua pengacara tersebut, Brittany Henderson dan Brad Edwards, menyatakan bahwa telah terjadi “keadaan darurat yang terus berkembang dan membutuhkan intervensi yudisial segera” karena DOJ “gagal menyunting nama korban dan informasi pribadi lainnya dalam ribuan kasus”.

      Sejumlah korban Epstein turut menambahkan pernyataan dalam surat tersebut. Salah satu korban menyebut rilis dokumen itu sebagai “ancaman terhadap nyawa”, sementara korban lainnya mengatakan ia menerima ancaman pembunuhan setelah data perbankan pribadinya dipublikasikan.

      Suara Korban

      Berbicara kepada BBC pada Selasa (3/2), penyintas Epstein, Annie Farmer, mengatakan, “Sulit untuk fokus pada informasi baru yang terungkap karena besarnya kerusakan yang ditimbulkan DOJ dengan mengekspos para penyintas seperti ini.”

      Korban Epstein lainnya, Lisa Phillips, menyatakan bahwa banyak penyintas “sangat tidak puas dengan hasil” dari rilis dokumen tersebut.

      “DOJ telah melanggar ketiga persyaratan kami,” ujarnya kepada program Newsday BBC. “Pertama, banyak dokumen yang masih belum diungkap. Kedua, tanggal rilis yang ditetapkan telah lama terlewati. Dan ketiga, DOJ merilis nama banyak penyintas.”

      “Kami merasa mereka sedang memainkan permainan dengan kami, tetapi kami tidak akan berhenti berjuang.”

      Pengacara hak-hak perempuan Gloria Allred, yang telah mewakili banyak korban Epstein, sebelumnya mengatakan kepada BBC bahwa sejumlah nama korban telah terungkap dalam rilis terbaru tersebut, termasuk korban yang sebelumnya belum pernah diidentifikasi secara publik.

      “Dalam beberapa kasus, mereka memberi garis pada nama, tetapi nama itu masih bisa dibaca,” tuturnya. “Dalam kasus lain, mereka menampilkan foto korban—penyintas yang tidak pernah melakukan wawancara publik dan tidak pernah mengungkapkan nama mereka ke publik.”

      Seorang juru bicara DOJ menuturkan kepada mitra berita BBC di AS, CBS, bahwa pihaknya “sangat serius dalam melindungi korban dan telah menyunting ribuan nama korban dalam jutaan halaman yang dipublikasikan untuk melindungi pihak yang tidak bersalah”.

      Juru bicara tersebut menambahkan bahwa kementerian itu “bekerja tanpa henti untuk memperbaiki masalah ini” dan bahwa hingga saat ini “0,1 persen dari halaman yang dirilis” ditemukan mengandung informasi yang belum disunting dan berpotensi mengidentifikasi korban.

      Sejak undang-undang mewajibkan publikasi dokumen tersebut tahun lalu, DOJ telah merilis jutaan berkas terkait Epstein, termasuk tiga juta halaman dokumen, 180.000 gambar, dan 2.000 video yang dirilis pada Jumat lalu.

      Rilis tersebut terjadi enam minggu setelah kementerian itu melewati tenggat waktu yang ditetapkan dalam undang-undang yang ditandatangani Presiden AS Epstein Files: Ribuan Dokumen Ditarik dari Publikasi Setelah Identitas Korban Terungkap Trump, di bawah tekanan bipartisan dari Kongres, yang mewajibkan seluruh dokumen terkait Epstein dibuka ke publik.

      Epstein, yang pernah menjalani hukuman pidana dalam kasus kejahatan seksual terhadap anak pada 2008, ditemukan tewas di sel penjara New York pada 10 Agustus 2019 saat menunggu persidangan baru terkait dugaan perdagangan seks anak dan persekongkolan kejahatan serupa.

    • Seorang Siswa SD Ditemukan Meninggal Gantung Diri di NTT, Tinggalkan Surat untuk Ibu

      Seorang Siswa SD Ditemukan Meninggal Gantung Diri di NTT, Tinggalkan Surat untuk Ibu

      SEORANG siswa sekolah dasar ditemukan meninggal dunia tergantung pada dahan pohon cengkeh di kebun milik neneknya di Desa Nenowea, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis, 29 Januari 2026. Anak tersebut diduga bunuh diri karena meninggalkan surat perpisahan.

      surat yang ditulis anak SD yang gantung diri

      Di sekitar lokasi kejadian, petugas menemukan beberapa barang bukti, termasuk tali nilon, pakaian korban, dan selembar kertas tulisan tangan dalam bahasa daerah Ngada. “Benar ditemukan selembar kertas tulisan tangan di sekitar lokasi kejadian pada Kamis, 29 Januari 2026, siang,” kata Kepala Bidang Humas Polda NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra dikonfirmasi, Rabu pagi, 4 Februari 2026.

      Surat tersebut berisi pesan perpisahan korban kepada ibunya. Jika diterjemahkan, bunyinya:

      Mama saya pergi dulu

      Mama relakan saya pergi (meninggal)

      Jangan menangis ya Mama

      Mama saya pergi (meninggal)

      Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya

      Selamat tinggal Mama

      Malam sebelum kejadian, korban beristirahat bersama ibunya dan sempat mengeluh sakit kepala. Ibunya menasihati agar tidak mandi hujan karena dapat memperburuk kondisi. Keesokan paginya, sekitar pukul 07.30 WITA, korban dibangunkan untuk berangkat sekolah, tetapi mengaku masih pusing. Ibunya tetap mendorong agar anaknya pergi ke sekolah karena selama minggu itu korban telah beberapa kali tidak masuk.

      Sekitar pukul 08.00 WITA, korban dititipkan kepada tukang ojek untuk diantar ke pondok milik neneknya, Welumina Nenu, karena seragam sekolah berada di pondok tersebut. Di sana, korban sempat terlihat belajar di bale-bale oleh saksi GK dan RB. Saat ditanya mengapa tidak pergi ke sekolah, korban menjawab masih sakit kepala.

      Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 11.00 WITA, saksi KD yang hendak mengikat kerbau di sekitar pondok nenek korban menemukan korban tergantung pada salah satu dahan pohon cengkeh. KD berteriak meminta pertolongan, dan warga sekitar segera menghubungi petugas Pospol Jerebuu.

      Personel Polres Ngada tiba di lokasi, mengamankan tempat kejadian, melakukan olah TKP, dan mengidentifikasi jenazah korban sebelum dibawa ke Puskesmas Dona Jerebuu untuk visum et repertum. Di lokasi, petugas menemukan beberapa barang bukti, antara lain tali nilon, pakaian milik korban, dan selembar kertas tulisan tangan berisi pesan perpisahan dalam bahasa daerah Ngada.

    • Pedagang Es Gabus Viral Ngelunjak, Dikasih Motor minta Mobil

      Pedagang Es Gabus Viral Ngelunjak, Dikasih Motor minta Mobil

      Sosok pedagang es gabus, Suderajat, belakangan ramai menjadi buah bibir. Usai mendapat banyak bantuan, Suderajat berharap bisa diberi mobil.

      Sebelumnya ramai diberitakan dua aparat TNI- Polri menginterogasi Suderajat. Keduanya menuding es gabus yang dijual Suderajat merupakan spons tanpa melakukan verifikasi laboratorium.

      Kasus ini mencuat setelah seorang warga melaporkan dugaan penjualan es gabus berbahan spons. Namun berdasarkan hasil laboratorium, tuduhan tersebut tidak terbukti.

      Suderajat pun mengaku trauma berdagang di luar hingga akhirnya banyak bantuan yang datang menghampirinya. Kapolres Metro Depok bahkan memberikan bantuan berupa satu unit sepeda motor dan uang tunai, namun rupanya Suderajat berharap bisa diberi mobil.

      Melansir Kompas.com, Polres Metro Depok memberikan bantuan berupa satu unit sepeda motor dan uang tunai sebagai modal usaha kepada Suderajat (49), pedagang es gabus yang sempat dituduh menjual makanan berbahan spons. Bantuan tersebut diserahkan langsung di kediaman Suderajat di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Selasa (27/1/2026) sore.

      Bantuan diberikan menyusul polemik yang menimpa Suderajat setelah barang dagangannya dituding mengandung spons oleh sejumlah pihak, termasuk aparat kepolisian dan TNI. Tuduhan tersebut sempat viral di media sosial sebelum hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan dagangan Suderajat aman dikonsumsi.

      Meski menerima bantuan dan berencana kembali berjualan, Suderajat mengaku masih diliputi rasa takut terhadap keselamatan dirinya saat berdagang di luar rumah.

      “Saya sih mau dagang es kue lagi, takutnya saya dua kali, empat kali, takut digebuk pakai kayu atau apa itu. Entar saya mati konyol,” kata Suderajat.

      Selain faktor keamanan, ia juga mengkhawatirkan stigma negatif dari masyarakat, terutama anak-anak, yang dikhawatirkan akan mengenal dagangannya sebagai “es gabus racun” sehingga tidak lagi diminati.

      “Takutnya diincar, takut dibilang es racun gitu. Takutnya, kan bocah-bocah begitu,” ungkapnya.

      Menanggapi kekhawatiran tersebut, Kapolres Metro Depok Kombes Abdul Waras memastikan bahwa Suderajat dapat kembali berjualan dengan aman dan tanpa rasa khawatir. “Enggak (digebuk), kan sudah ada dijamin. (Tenang), kan enggak ada racunnya,” jelas Abdul.

      Sementara itu, dilansir dari Tribunnewsbogor.com, saat disinggung soal dapat banyak bantuan pascakejadian, Suderajat menjawab santai. “Alhamdulillah,” katanya.

      Kemudian Ryan Ibram menyinggung soal motor pemberian Kapolres. “Kemarin Pak Kapolres Metro sudah datang ke rumah Pak Suderajat, dapet motor katanya Pak, ya?,” tanya Ryan.

      Di luar dugaan, Suderajat tampaknya kecewa dengan pemberian motor itu. Sebab Suderajat berharap bisa diberi mobil oleh Kapolres Metro Depok. “Saya tadinya mau minta mobil, tapi dapetnya motor,” jawab Suderajat.

      Hal itu sontak membuat para host berteriak kaget. “Kenapa jadi minta mobil?,” tanya Ryan Ibram lagi. “Mobil kan buat jalan-jalan sama keluarga. Maunya mobil, taunya dapetnya motor,” kata penjual es gabus itu. “Siapa yang bisa nyetir? Bapak bisa nyetir?,” tanya Dewi Perssik.

      “Kan sama anak, nyetir,” jawab Suderajat. Kemudian Dewi Perssik pun mengingatkan Suderajat untuk tetap bersyukur atas apa yang didapat. “Alhamdulillah, kalau bersyukur nanti rezeki lain datang lagi,” ucap Dewi Perssik sambil tersenyum. (*)