Sri Mulyani Beberkan Dunia Dalam Keadaan Bahaya Kepada Petinggi G20

You are currently viewing Sri Mulyani Beberkan Dunia Dalam Keadaan Bahaya Kepada Petinggi G20

MEDIAPASTI.COM – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menghadiri pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral Negara anggota G20 di Washington DC, Amerika Serikat (AS).

Membuka pertemuan, Sri Mulyani menyampaikan dunia dalam situasi bahaya.

“Kita bertemu lagi ketika situasi ekonomi global menjadi lebih menantang dan saya tidak merasa berlebihan untuk mengatakan dunia dalam keadaan bahaya.” ungkapnya dalam pertemuan yang disiarkan melalui akun Youtube Bank Indonesia, Kamis (13/10/2022).

Pertemuan ini terakhir kali dilaksanakan di Bali pada Juli 2022. Kala itu, Sri Mulyani juga mengutarakan bahwa situasi ekonomi global sudah sangat menantang. Namun kini menjadi lebih buruk.

“Kita sekarang menghadapi risiko yang semakin meningkat, inflasi yang tinggi, pertumbuhan yang lemah, kerawanan energi dan pangan, risiko iklim dan fragmentasi geopolitik,” jelasnya.

Hal ini tidak terlepas dari pandemi covid-19 yang belum sepenuhnya berakhir. Diperparah oleh perang Rusia dan Ukraina sebagai biang kerok krisis pangan dan energi, menimbulkan lonjakan inflasi di mana-mana.

Situasi semakin rumit, tatkala negara maju mengubah arah kebijakan moneter. Seperti Amerika Serikat (AS) yang dengan agresif menaikkan suku bunga acuan dan menimbulkan gejolak besar di pasar keuangan.

“Kita telah melihat pengetatan kebijakan moneter global yang lebih cepat dari yang diantisipasi, dengan banyak negara maju dan negara berkembang menaikkan suku bunga mereka secara signifikan. yang menciptakan risiko rembesan ke seluruh dunia,” papar Sri Mulyani.

Negara dengan kondisi fiskal yang rapuh, terpaksa jatuh ke jurang krisis keuangan.

“Kebanyakan dari kita mulai dari posisi utang yang tinggi mengingat langkah luar biasa yang kita ambil untuk mengamankan ekonomi kita dari pandemi,” ujarnya.

Tidak sedikit negara yang akhirnya mengalami permasalahan sosial karena rakyat kelaparan akibat lonjakan harga tinggi.

Tinggalkan Balasan