• https://www.langdonparkatwestcovina.com/
  • Mbokslot
  • https://data.pramukajabar.or.id/
  • http://103.206.170.246:8080/visi/
  • https://siakad.stkippgri-bkl.ac.id/
  • https://lms.rentas.co.id/
  • https://siakad.stkippgri-bkl.ac.id/pengumuman
  • https://yahooo.co.com/
  • https://pmb.stkippgri-bkl.ac.id/info-prodi
  • https://sptjm.lldikti4.id/banner/
  • mbokslot
  • https://solarcity.vn/mua/
  • https://ppm-rekrutmen.com/antam/
  • https://sptjm.lldikti4.id/storage/
  • https://www.langdonparkatwestcovina.com/floorplans
  • https://silancar.pekalongankota.go.id/newsilancar/
  • https://app.mywork.com.au/login
  • https://dms.smhg.co.id/assets/js/hitam-link/
  • https://aeress.org/noticias/
  • https://rsupsoeradji.id/
  • slotplus777
  • https://ibs.rshs.or.id/operasi.php
  • https://tpfx.co.id/jurnal/
  • Mbokslot
  • http://103.81.246.107:35200/templates/itax/-/mbok/
  • https://alpsmedical.com/alps/
  • https://pastiwin777.cfd/
  • https://elibrary.rac.gov.kh/
  • https://heylink.me/Mbokslot.com/
  • https://sman2situbondo.sch.id/
  • https://www.capitainestudy.fr/quest-ce-que-le-mba/
  • AngePostecoglou – Mediapasti.com

    Tag: AngePostecoglou

    • Tottenham Terpuruk Usai Juara Liga Europa: Dibantai Brighton, Finis di Peringkat 17 Premier League

      Tottenham Terpuruk Usai Juara Liga Europa: Dibantai Brighton, Finis di Peringkat 17 Premier League

      Mediapasti.com – Tottenham Hotspur mengangkat trofi Liga Europa di tengah pekan, tapi hanya tiga hari kemudian, klub London Utara ini dibenamkan oleh Brighton 1-4 di kandang sendiri.

      Kekalahan telak itu bukan sekadar noda di akhir musim, melainkan pertanda krisis sistemik yang menghantui masa depan klub.

      Euforia yang Tidak Bertahan Lama: Dari Puncak Eropa ke Dasar Klasemen

      Pekan yang seharusnya menjadi momen perayaan justru berubah menjadi refleksi menyakitkan bagi Tottenham.

      Setelah mengalahkan Bayer Leverkusen 2-1 di final Liga Europa pada Kamis (22/5) di Budapest, Spurs seakan di atas awan.

      Gelar ini menjadi pelipur lara atas puasa trofi selama lebih dari satu dekade dan menjadi harapan baru di bawah asuhan Ange Postecoglou.

      Namun, hanya tiga hari berselang, pada Minggu (25/5), Tottenham menutup musim Premier League 2024/2025 dengan kekalahan telak 1-4 dari Brighton & Hove Albion.

      Hasil tersebut menempatkan Spurs di peringkat ke-17, nyaris terdegradasi—sebuah ironi pahit bagi klub yang baru saja berjaya di kancah Eropa.

      Babak Pertama: Awal Menjanjikan yang Menyesatkan

      Pertandingan dimulai cukup positif bagi Spurs. Dominic Solanke, yang menjadi top skor klub musim ini dengan 18 gol, membuka keunggulan melalui penalti di menit ke-17 setelah pelanggaran terhadap Brennan Johnson.

      Namun setelah gol tersebut, tempo permainan Tottenham mulai menurun. Brighton tetap tenang dan bermain rapi, menunggu kelemahan lawan.

      Tottenham tampak seperti tim yang kehabisan energi dan ide, terutama dalam transisi bertahan.

      Babak Kedua: Brighton Mengamuk, Tottenham Luluh Lantak

      Kebobrokan Spurs benar-benar terlihat di babak kedua. Brighton keluar dengan intensitas tinggi dan mendominasi jalannya laga.

      Gelandang muda berbakat, Jack Hinshelwood, tampil luar biasa dengan dua gol cepat di menit ke-51 dan 64.

      Ia memanfaatkan ruang kosong yang ditinggalkan pertahanan Tottenham yang kacau dan tidak terorganisir.

      Kondisi semakin buruk bagi Spurs saat Matt O’Riley, mantan pemain Celtic yang kini menjadi andalan Brighton, mencetak gol ketiga lewat titik putih di menit ke-88.

      Tekanan semakin menyesakkan ketika Diego Gómez menambah gol keempat di masa injury time (90+3′).

      Empat gol dalam satu babak menggambarkan bukan hanya ketidaksiapan taktis, tetapi juga mentalitas yang hancur.

      Masalah Struktural: Dari Ketergantungan Individu hingga Minimnya Rotasi

      Tottenham di musim ini memperlihatkan sejumlah masalah besar yang tak bisa ditutup dengan satu trofi. Berikut beberapa poin krusial yang berkontribusi terhadap anjloknya performa liga mereka:

      1. Rotasi Pemain yang Buruk

      Manajer Ange Postecoglou terlalu mengandalkan susunan inti yang sama dalam banyak laga penting. Minimnya rotasi membuat para pemain kelelahan di fase akhir musim, terutama setelah jadwal padat kompetisi Eropa.

      2. Ketergantungan pada Solanke dan Maddison

      Spurs terlalu bergantung pada Solanke dan James Maddison untuk mencetak gol atau menciptakan peluang. Saat keduanya dijaga ketat atau tampil di bawah performa, kreativitas tim langsung buntu.

      3. Mentalitas yang Rapuh

      Kekalahan dari Brighton adalah kali kesepuluh musim ini di mana Tottenham kalah setelah sempat unggul lebih dulu. Ini menandakan lemahnya mental bertanding serta kurangnya pemimpin di lapangan.

      4. Skema Bertahan yang Rawan Eksploitasi

      Transisi bertahan yang lambat dan kurangnya kedalaman di lini belakang membuat Tottenham rentan dihantam serangan balik—yang dimanfaatkan dengan sempurna oleh Brighton.

      Statistik Pertandingan: Dominasi Efisiensi Brighton

      StatistikTottenhamBrighton
      Penguasaan Bola52%48%
      Tembakan Total915
      Tembakan Tepat Sasaran49
      Pelanggaran1210
      Kartu Kuning11
      Penalti1 (gol)1 (gol)

      Statistik ini memperlihatkan bagaimana Brighton tampil jauh lebih efisien.

      Meskipun kalah dalam penguasaan bola, mereka unggul dalam penciptaan peluang dan finishing.

      Brighton: Simbol Konsistensi dan Perencanaan Jangka Panjang

      Di sisi lain, Brighton membuktikan diri sebagai klub dengan manajemen teknis dan strategi yang solid.

      Di bawah Roberto De Zerbi, mereka menuntaskan musim di posisi 8 besar, mengalahkan banyak tim dengan anggaran lebih besar.

      Yang menarik, Brighton melakukannya dengan para pemain muda seperti:

      • Jack Hinshelwood (gelandang, 19 tahun)
      • Carlos Baleba (gelandang, 20 tahun)
      • Yasin Ayari, Gruda, dan Kaoru Mitoma

      Brighton juga tetap kompetitif meski ditinggal sejumlah pemain kunci seperti Alexis Mac Allister dan Moisés Caicedo pada awal musim.

      Mereka menampilkan bahwa konsistensi tidak harus datang dari bintang mahal, melainkan visi jangka panjang.

    • Tangis Bahagia Son Heung Min: Tottenham Juara Liga Europa 2025, Akhiri Penantian 10 Tahun

      Tangis Bahagia Son Heung Min: Tottenham Juara Liga Europa 2025, Akhiri Penantian 10 Tahun

      Mediapasti.com – Kapten Tottenham Hotspur, Son Heung Min, tak kuasa menahan air mata saat timnya memastikan gelar juara Liga Europa 2024/2025.

      Tangis haru pecah di wajah bintang Korea Selatan itu sesaat setelah peluit panjang dibunyikan di Stadion San Mamés, Kamis (22/5) dini hari WIB.

      Tottenham Taklukkan Manchester United 1-0 di Final

      Tottenham keluar sebagai kampiun usai menang tipis 1-0 atas Manchester United. Gol semata wayang dicetak oleh Brennan Johnson di menit ke-42 setelah memaksimalkan umpan silang dari Pape Sarr.

      Johnson berhasil menyelinap di antara bek MU dan melepaskan tembakan yang tak mampu dibendung Andre Onana.

      Kemenangan ini menandai akhir penantian panjang Spurs dalam meraih trofi Eropa, dan menjadi gelar bergengsi pertama mereka sejak Piala Liga Inggris 2008.

      Son Heung Min Menangis Haru: Gelar Pertama Setelah 10 Tahun

      Momen paling emosional terjadi selepas pertandingan, ketika Son Heung Min tak mampu membendung air matanya.

      Ia memeluk staf pelatih Tottenham sambil menangis terisak, menandai pencapaian terbesar dalam kariernya bersama Spurs.

      “Ini adalah momen yang luar biasa. Saya telah menunggu selama 10 tahun untuk ini. Saya merasa sangat diberkati,” ujar Son dalam wawancara pascalaga.

      Son adalah satu-satunya pemain yang masih bertahan dari skuad Spurs satu dekade terakhir, ketika banyak nama besar telah hengkang, termasuk Harry Kane.

      Dari Ucapan Selamat ke Harry Kane, Kini Giliran Son Angkat Trofi

      Sebelumnya, Son sempat mengucapkan selamat kepada Harry Kane yang sukses meraih gelar Bundesliga 2024/2025 bersama Bayern Munchen.

      Meski gagal di musim pertamanya, Kane akhirnya mencicipi trofi liga top Eropa setelah bertahun-tahun membela Tottenham tanpa gelar.

      Kini, giliran Son yang mencicipi manisnya trofi. Bedanya, ia meraihnya tanpa meninggalkan klub yang telah dibelanya selama satu dekade.

      Son Heung Min Angkat Trofi Liga Europa di San Mamés

      Sebagai kapten tim, Son mendapat kehormatan mengangkat trofi UEFA Europa League di hadapan ribuan pendukung Tottenham yang hadir di San Mamés.

      Suasana berubah menjadi haru sekaligus penuh suka cita saat seluruh tim Spurs merayakan kemenangan bersejarah tersebut.

      Ini bukan hanya kemenangan untuk klub, tetapi juga momen penebusan dan loyalitas bagi pemain yang dikenal rendah hati dan pekerja keras itu.

      Gelar ini menjadi catatan penting dalam sejarah Tottenham. Mereka terakhir kali tampil di final kompetisi Eropa pada Liga Champions 2019, namun kalah dari Liverpool.

      Kini, Spurs membuktikan bahwa mereka tetap kompetitif di kancah Eropa.

      Pelatih Tottenham, Ange Postecoglou, pun mendapat banyak pujian atas keberhasilannya meramu tim yang solid dan bermental juara.

    • MU & Tottenham Menang Telak di Leg Pertama Semifinal Liga Europa 2025, Peluang Final All-English Menguat

      MU & Tottenham Menang Telak di Leg Pertama Semifinal Liga Europa 2025, Peluang Final All-English Menguat

      Mediapasti.com – LIGA EUROPA 2025 berpotensi menghadirkan laga final istimewa antara dua klub asal Inggris.

      Manchester United dan Tottenham Hotspur mencatatkan kemenangan meyakinkan pada leg pertama semifinal, Kamis malam (1/5/2025), membuka jalan menuju All-English Final untuk kali kedua sepanjang sejarah kompetisi ini.

      Kemenangan besar atas lawan masing-masing menempatkan kedua tim dalam posisi strategis menuju final yang akan digelar di Stadion San Mames, Bilbao, pada 21 Mei 2025.

      Namun, perjuangan masih belum selesai karena leg kedua yang digelar pekan depan akan menjadi penentu utama.

      Manchester United Tumbangkan Bilbao 3-0 di Kandang Lawan

      Bertandang ke markas Athletic Bilbao, San Mames, Manchester United justru tampil tanpa ampun.

      Tim yang kini dilatih Ruben Amorim itu mengukir kemenangan 3-0, hasil dari sundulan Casemiro serta dua gol dari Bruno Fernandes.

      Penampilan ini dianggap sebagai salah satu performa tandang terbaik United di pentas Eropa dalam beberapa musim terakhir.

      Selain mendominasi penguasaan bola, mereka juga solid dalam bertahan, membatasi peluang Bilbao yang dikenal agresif di kandang.

      Harry Maguire, bek veteran MU, mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai.

      “Ini awal yang bagus. Tapi kami harus tetap fokus. Semua tekanan akan datang di leg kedua. Kami punya satu kaki di final, tapi belum dua-duanya,” ujar Maguire dikutip dari Reuters.

      Tottenham Hotspur Atasi Bodo/Glimt 3-1, Tapi Ujian Berat Menanti

      Di laga lain, Tottenham Hotspur menjamu klub kejutan asal Norwegia, Bodo/Glimt, di Tottenham Hotspur Stadium.

      Meskipun sempat kecolongan satu gol di menit-menit akhir, Spurs tampil dominan dan meraih kemenangan 3-1 berkat gol dari Brennan Johnson, James Maddison, dan Dominic Solanke.

      Pelatih Tottenham, Ange Postecoglou, mengakui kemenangan ini krusial, namun menegaskan bahwa timnya tidak boleh lengah menghadapi leg kedua di Norwegia yang dikenal memiliki kondisi cuaca ekstrim dan rumput sintetis.

      “Hasilnya bagus, tapi kami harus main dengan intensitas yang sama pekan depan. Mereka mencetak gol yang sedikit menodai dominasi kami,” ujarnya dalam konferensi pers usai pertandingan.

      Potensi Final Sesama Klub Inggris, Momen Kedua Sepanjang Sejarah

      Sejak format UEFA Europa League diperkenalkan pada musim 2009/2010 (sebelumnya UEFA Cup), baru satu kali terjadi final sesama tim Inggris, yaitu pada 2019 saat Chelsea menundukkan Arsenal 4-1 di Baku, Azerbaijan.

      Musim ini, Inggris berpeluang mengulang momen tersebut jika MU dan Tottenham sama-sama melaju.

      Final ini akan menjadi sorotan global mengingat rivalitas dan sejarah besar kedua klub dalam kompetisi Eropa.

      Kemenangan di Liga Europa juga menjadi jalan alternatif menuju Liga Champions musim depan, terlebih saat performa domestik MU dan Spurs belum sepenuhnya konsisten di Premier League.

      Final Liga Europa 2025 Akan Digelar di Markas Bilbao

      Menariknya, Stadion San Mames bukan hanya menjadi lokasi laga semifinal antara MU dan Athletic Bilbao, tapi juga akan menjadi venue final Liga Europa musim ini.

      Stadion berkapasitas lebih dari 53.000 penonton ini siap menjadi saksi klimaks perebutan gelar kasta kedua Eropa.

      Jika MU melaju ke final, mereka berpotensi bermain dua kali di stadion yang sama, sesuatu yang sangat jarang terjadi di kompetisi Eropa.

      Statistik Menarik Jelang Leg Kedua

      Beberapa catatan penting dari semifinal Liga Europa 2025:

      • MU menjadi tim Inggris pertama yang menang 3-0 tandang di semifinal Liga Europa sejak Chelsea (2019 vs Eintracht Frankfurt).
      • Bruno Fernandes mencetak gol ke-6 dan ke-7-nya di kompetisi musim ini.
      • Tottenham belum terkalahkan dalam 7 laga Eropa terakhir.
      • Bodo/Glimt hanya pernah kalah sekali di kandang selama musim ini di semua ajang.

      Jadwal Leg Kedua Semifinal Liga Europa 2025:

      Manchester United vs Athletic Bilbao – 8 Mei 2025 – Old Trafford, Inggris

      Bodo/Glimt vs Tottenham Hotspur – 8 Mei 2025 – Aspmyra Stadion, Norwegia