Review The Last of Us Part I: Lebih Indah, Lebih Emosional!

You are currently viewing Review The Last of Us Part I: Lebih Indah, Lebih Emosional!

MEDIAPASTI.COM – Dengan menggunakan performa Playstation 5, Anda tentu saja bisa mengantisipasi peningkatan visual yang signifikan dari versi Remaster yang tersedia di Playstation 4, yang notabene didasarkan pada versi Playstation 3. Anda bisa melihat tekstur yang kini terlihat lebih jelas, dari partikel jamur yang memenuhi ruang gelap penuh Clickers, pakaian milik Joel, hingga bangunan-bangunan yang Anda temui. Perubahan paling kentara adalah efek tata cahaya yang terlihat lebih realistis dan dramatis, membuat banyak scene yang terlihat biasa saja di versi Remaster masa lampau, kini terlihat begitu memanjakan mata. Anda akan merasakan hal tersebut sejak menit pertama permainan, ketika Anda melihat detail bola api dari ledakan atau sekadar api yang membakar ragam objek ketika prologue terjadi. Efek api tersebut dikombinasikan dengan cahaya yang ia hasilkan sudah cukup untuk menjadi bukti.

The Last of Us Remastered jagatplay

Bersama dengan setting yang terlihat indah ini, Anda juga akan menemukan perubahan model karakter yang kini diposisikan sedemikian rupa untuk tidak hanya terlihat lebih realistis tetapi juga setia dengan progress tumbuh di The Last of Us Part II, terutama untuk Ellie. Perubahan ini di awal memang butuh adaptasi, terutama untuk karakter seperti Tess yang versi “realistis”-nya memang sedikit berbeda dengan versi Remaster tempo lalu. Model karakter yang baru ini juga akan Anda temukan di variasi musuh manusia yang Anda temui, yang punya cukup banyak model unik hingga Anda yang berujung melakukan aksi bunuh stealth yang secara otomatis melakukan zoom ke wajah mereka tidak akan pernah menemukan kejanggalan di sini. Sebuah apresiasi ekstra yang lain.

Tentu saja, peningkatan visual ini juga datang dengan level brutalitas yang meningkat. Naughty Dog memang tidak cukup gila untuk membuat beberapa cut-scene yang sudah penuh kekerasan kini juga dibanjiri darah, melainkan mengalihkannya ke sistem potongan tubuh dan percikan darah ala Part II yang harus kami akui, berujung kami cintai. Melihat bagaimana shotgun Anda di arah yang tepat bisa membuat kepala musuh kini “lenyap” bersama dengan simbahan darah yang kini terpercik akurat di dekat meja misalnya, selalu berujung memuaskan. Bahkan hanya untuk melihat efek ini berulang dan berulang, kami seringkali mengabaikan stealth dan mulai menghabisi mereka dengan shotgun. Semuanya kian indah ketika Anda mulaimelemparkan bomb ke keramaian.

Namun harus diakui, bahwa highlight terbaik dari The Last of Us Part I sekaligus bisa disimpulkan sebagai peningkatan paling signifikan terletak pada dua hal: wajah dan air mata. Untuk wajah, benar sekali, terasa bahkan lebih baik daripada The Last of Us Part II, mereka berhasil menyuntikkan ekspresi yang benar-benar manusiawi. Membandingankannya dengan The Last of Us Remaster benar-benar seperti membandingkan bumi dan langit, dengan versi Remaster yang di masa lalu terasa indah tersebut, kini terlihat bak boneka tiga dimensi dengan wajah yang datar. Di The Last of Us Part I, ekpresi ini begitu kompleks-nya hingga Anda bisa memahami apa yang sedang mereka rasakan, yang muncul dari gerak bibir, mata, hingga sekedar gerak kecil di pipi. Ia memberikan konteks dan elevasi emosi yang tidak tersedia di seri original, yang cukup membuat kami menjatuhkan air mata pertama kalinya di scene perpisahan Tess dan Joel yang sebelumnya, tak pernah sekalipun membuat kami sedih.

Baca Juga :   HUT Syilla Putri Dermawan Putri Dari Pimpinan Media Pasti Indonesia di Laksanakan di Rumah Anak Yatim dan Dhuafa

Tambahan lainnya adalah detail mata yang memperkaya ekspresi wajah yang sudah kian kompleks ini. The Last of Us Part I membuat mata karakter kini bisa sekadar “sembab”. Ada begitu banyak konteks yang “terbuka” lewat fitur kecil yang terasa tak signifikan ini. Dengannya, konteks yang lebih emosional terbuka. Ketika sebuah scene yang penting terjadi, Anda akan memahami kalimat mana yang datang dari lubuk hati yang sebenarnya tengah sedih. Beberapa situasi bahkan memberikan detail air mata yang jatuh perlahan di sisi ketika dialog ini terjadi. Hal inilah yang terjadi pada saat percakapan Tess dan Joel sebelum keduanya berpisah, dimana terlepas dari keberanian Tess, Anda memahami bahwa ia belum sepenuhnya siap menerima takdirnya. Percakapan emosional antara Joel dan Ellie yang ikonik juga kian emosional ketika Anda melihat air mata kecil yang jatuh di sudut mata Ellie.

Ekspresi wajah yang jauh lebih manusiawi memang harus diakui merupakan daya tarik utama yang ditawarkan The Last of Us Part I, yang membuat konteks untuk banyak adegan kini terasa kaya. Tidak hanya masalah “sembab” saja, tetapi juga linangan air mata yang kini juga jelas mengalir di wajah karakter, yang membuat Anda memahami seberapa traumatis kejadian yang baru mereka lewati. The Last of Us Part I memang tidak menambahkan cerita, adegan, atau dialog baru yang signifikan, namun kehadiran ekspresi wajah ini benar-benar membuat beberapa adegan yang sudah Anda nikmati di versi Remaster seolah menawarkan konteks baru yang mungkin Anda lewatkan sebelumnya. Ini adalah pemanfaatan teknologi yang tepat sasaran.

9 Tahun dan Tetap Relevan

Ketika Naughty Dog mengumumkan bahwa mereka tidak akan mengubah banyak sisi gameplay, selain memperkuat AI musuh dan mengubah user-interface agar terasa modern dan lebih mudah dinavigasi, sebagian besar gamer mungkin akan langsung skeptis. Kita bicara soal game yang sudah tersedia sejak 9 tahun yang lalu, yang eksis di era Playstation 3. Untuk sebagian besar game, 9 tahun adalah usia yang terlalu tua untuk tidak mengubah apapun atau menawarkan sesuatu yang baru sama sekali. Ada banyak potensi sensasi “tua” itu bocor dan merebak kuat di versi Remake, yang tentu saja mencederai pengalaman yang ada. Mencicipi The Last of Us Part I justru menimbulkan satu efek yang tak pernah kami prediksi sebelumnya – apresiasi ekstra.

Bahwa percaya atau tidak, formula yang sudah mereka tawarkan 9 tahun yang lalu tersebut, tanpa banyak modifikasi dan perubahan di sisi cerita dan gameplay, ternyata masih terasa fantastis di tahun 2022 ini. Ini membuat apresiasi kami terhadap The Last of Us original kian meninggi dan tak ragu untuk memasukkannya ke dalam kategori salah satu game revolusioner yang memang pantas dirayakan.

Baca Juga :   Bunga Citra Lestari Ulang Tahun Yang Ke 38 , Masih Seperti Gadis

Hampir semua elemen tersebut tidak hanya terasa tetap mantap di tahun 2022, bahkan tak sulit menundukkan game-game rilis modern yang lain. Kita bicara dari hal sekecil sensasi menggunakan senjata, yang di awal selalu diikuti getaran tangan Joel yang membuat akurasi tak pernah mutlak, menghasilkan ketegangan tersendiri. Kita bicara soal komposisi musuh di satu area dan tata letak mereka serta kebebasan untuk menundukkan mereka secara frontal ataupun stealth yang menghasilkan sensasi yang tetap intens. Kita bicara soal bagaimana proses eksplorasi kecil-kecilan selalu terasa pantas dan berharga berkat material dan peluru terbatas yang bisa Anda kumpulkan, yang kesemuanya berkontribusi pada besar kesempatan Anda untuk bertahan hidup. Posisinya sebagai salah satu game survival horror terbaik yang pernah eksis tetap tidak tergeser.

The Last of Us Part I jagatplay 107
The Last of Us Part I jagatplay 200

Hal yang sama juga terjadi di sisi cerita. Seperti yang kita tahu, dengan rilis ulang seperti ini, Naughty Dog selalu punya kesempatan untuk mengubah, menambahkan, dan memperkuat sisi cerita yang ada dengan tambahan scene dan dialog, yang bisa saja menambah atau justru mengubah keseluruhan atmosfer yang ada. Namun keputusan untuk tidak mengubah apapun, mempertahankan apa yang kita kenal namun dengan penyempurnaan ekspresi wajah dan detail ternyata tidak mencederai The Last of Us Part I. Ia tetap menjadi sebuah cerita yang solid dengan tema berat yang penuh dengan kekerasan dan rasa putus asa, tetapi juga cinta dan harapan di saat yang sama. Fakta bahwa cerita ini masih terasa relevan dan punya impact yang sama di tahun 2022 ini seolah jadi testimoni tak langsung bahwa harus diakui, cerita dan karakter yang ia sampaikan memang sudah solid sejak awal eksistensinya.

The Last of Us Part I jagatplay 112

Bahkan, The Last of Us Part I berhasil tampil semakin relevan berkat tambahan fitur aksesibilitas seperti yang mereka tawarkan di The Last of Us Part II, bahkan di level yang lebih tinggi dan lengkap. Salah satu fitur aksesibilitas baru yang didesain untuk gamer tuna rungu bahkan datang memaksimalkan fitur Haptic Feedback yang ada. Walaupun besar kemungkinan mereka tidak bisa mendengar dialog yang ada, intonasi percakapan kini diterjemahkan lewat kuat – lemahnya getaran Haptic di DualSense. Haptic muncul untuk mengekspresikan emosi yang mungkin hilang bagi gamer tuna rungu yang hanya bisa membaca dialog yang diberikan. Perhatian ekstra Naughty Dog untuk lebih banyak opsi aksesibilitas, memberikan kesempatan bagi gamer penyandang disabilitas atau sekadar gamer yang kesulitan untuk tetap bisa menikmati The Last of Us Part I secara optimal, tanpa harus kehilangan menikmati kesempatan mendapatkan trophy sekalipun, adalah langkah yang selalu pantas kita sambut dengan tangan terbuka.

Tinggalkan Balasan