7 Bintang Kejutan di Piala Dunia 2026: Dari Vozinha hingga Djed Spence

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Threads
Pinterest
Telegram

Ajang Piala Dunia 2026 tidak melulu berpusat pada deretan nama besar yang sudah mendunia. Tentu, jutaan pasang mata selalu menantikan aksi megabintang semacam Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, hingga Kylian Mbappe, yang kini disusul oleh partisipasi perdana Erling Haaland di pentas Piala Dunia 2026.

Akan tetapi, pesona Piala Dunia 2026 sesungguhnya lebih dari sekadar nama-nama populer tersebut. Ada banyak kisah menarik dari para pemain yang datang tanpa sorotan, tetapi pulang dengan reputasi yang baik. Piala Dunia 2026 terbukti sukses mendongkrak karier sejumlah pesepak bola dari berbagai belahan dunia saat mereka berjibaku membela panji negara masing-masing demi supremasi tertinggi.

Melansir dari SI, berikut adalah tujuh bintang kejutan dalam gelaran Piala Dunia 2026:

1. Vozinha

Jika ada pemain yang mengalami lonjakan karier di usia 40 tahun, Vozinha adalah buktinya. Penjaga gawang Cape Verde ini sebelumnya jauh dari ingar-bingar sepak bola elite dan hanya merumput di kasta kedua Liga Portugal selama dua musim terakhir.

Hebatnya, ia sukses menyita perhatian dunia setelah tampil solid menahan imbang juara bertahan Spanyol di laga pembuka, yang membawa timnya lolos tak terkalahkan dari fase awal. Performanya kian mengilap dengan catatan tanpa kebobolan saat bersua Arab Saudi, disusul delapan penyelamatan krusial kontra Argentina di babak 32 besar yang memaksa laga berlanjut ke perpanjangan waktu. Kini, rumor kepindahannya mulai berembus kencang, termasuk potensi merapat ke Inter Miami, meski statusnya saat ini masih bebas transfer.

2. Johan Manzambi

Berbekal musim yang impresif bersama Freiburg pada 2025–26, gelandang Swiss Johan Manzambi semakin tak terbendung di turnamen ini. Berkat performa gemilangnya, Aston Villa dilaporkan langsung berniat menebus pemuda 20 tahun itu dengan nilai fantastis sekitar 70 juta euro atau setara Rp 1,4 triliun. Selain Villa, Newcastle United juga sempat membidiknya, yang mungkin dipengaruhi oleh pertemuannya dengan Villa di final Liga Europa 2026.

Bintang muda ini sukses menyarangkan lima gol serta mencetak lima assist, mengantarkan Swiss melenggang mulus dari fase grup dan memenangi laga sistem gugur untuk kali pertama sejak 1938. Sayangnya, cedera memaksanya absen di dua laga berikutnya yang berujung kerugian bagi timnya.

3. Ayyoub Bouaddi

Status kewarganegaraan gelandang 18 tahun, Ayyoub Bouaddi, baru disahkan FIFA berpindah dari Prancis ke Maroko pada bulan Mei. Kendati demikian, ia langsung tampil memukau di tiga laga uji coba dan bermain brilian saat melawan Brasil. Visi bermain, ketenangan, serta kedewasaannya di atas lapangan menjadi perbincangan hangat, melanjutkan tren positifnya sejak bermain penuh 90 menit membela Lille mengalahkan Real Madrid di Liga Champions tepat di hari ulang tahunnya yang ke-17.

Konsistensinya terjaga meski Prancis pada akhirnya terbukti terlalu tangguh di perempat final. Lille kini membanderolnya lebih dari 87,6 juta euro (sekitar Rp 1,7 triliun), dengan Manchester City disebut-sebut sebagai klub yang paling berpotensi menjadikannya penerus Rodri.

4. Ismael Saibari

Langkah proaktif Bayern Munich bernegosiasi demi mengamankan jasa Ismael Saibari sejak awal turnamen berbuah manis.

Striker Maroko ini tampil beringas dengan mencetak gol di tiga pertandingan grup secara beruntun melawan Brasil, Skotlandia, dan Haiti. Keputusan Bayern menebusnya dari PSV Eindhoven seharga 50 juta euro atau setara Rp 1 triliun terbukti jitu, sebab harganya dipastikan bakal melambung lebih tinggi andai mereka menunjukkan keraguan sedikit pun. Sayangnya, petaka cedera menimpanya di saat yang paling tidak tepat, memaksa ia ditarik keluar sebelum jeda minum pertama di babak 16 besar melawan Kanada.

Absennya Saibari membuat skuad Singa Atlas kehilangan ketajaman di posisi nomor 9 saat bersua Prancis di babak selanjutnya.

5. Crysencio Summerville

Walau sudah mencatatkan 84 laga di Premier League dan ditransfer dengan nilai mahal ke West Ham United pada 2024, nama Crysencio Summerville belum sepenuhnya mentereng, mengingat ia juga merasakan dua kali degradasi dalam empat musim terakhir. Debutnya untuk tim nasional Belanda pun baru terjadi pada tahun 2026 ini. Pemain yang kabarnya tengah diincar Manchester United ini langsung mencetak gol krusial kala Belanda ditahan imbang 2-2 oleh Jepang di laga debutnya. Ia lantas menambah pundi gol dan memberikan assist pada pertandingan berikutnya melawan Swedia.

Kontribusinya berlanjut dengan suplai assist penentu kemenangan atas Maroko di babak 32 besar, membuktikan bahwa dengan dukungan tim yang lebih baik, performanya bisa jauh lebih konsisten.

6. Manu Kone

Turnamen ini menjadi panggung pembuktian bagi Manu Kone bahwa ia pantas menjadi starter reguler di skuad Prancis. Gelandang AS Roma berusia 25 tahun itu awalnya mendarat di Amerika Utara sekadar sebagai pelapis Adrien Rabiot dan Aurelien Tchouameni.

Kesempatannya datang akibat cederanya Tchouameni saat melawan Irak, yang membuatnya terus bermain di dua laga beruntun. Ia kembali diandalkan sejak menit awal di babak sistem gugur menantang Paraguay dan Maroko. Bahkan saat Tchouameni pulih, Kone tetap mendapat panggilan untuk masuk di paruh kedua babak semifinal menggantikan Rabiot.

Menilik tingginya kebutuhan klub akan gelandang atletis perusak serangan lawan, namanya dipastikan masuk radar pantauan di sisa bursa transfer musim panas ini.

7. Djed Spence

Pilihan Thomas Tuchel untuk membawa Djed Spence sempat memicu tanda tanya besar lantaran performanya yang inkonsisten di Tottenham Hotspur.  Publik menilai nama-nama seperti Luke Shaw, Lewis Hall, atau Myles Lewis-Skelly jauh lebih rasional.

Setelah hanya bergantian bermain dengan Nico O’Reilly di fase grup dan menjadi pengganti bek kanan saat melawan Republik Demokratik Kongo di babak 32 besar, kejutan terjadi. Tuchel memutuskan menurunkannya kembali sebagai starter di partai semifinal karena dinilai lebih sanggup meredam pergerakan pemain Argentina. Satu tekel kerasnya terhadap Giuliano Simeone tepat sesudah Inggris memimpin sukses terukir dalam ingatan, membuat Spence pulang dengan reputasi yang meroket setelah melewati bertahun-tahun masa sulit.

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Threads
Pinterest
Telegram

Leave a Reply

Ikuti Kami :

Berita Serupa

Berita Terbaru

Tag Berita