Fenomena Fomo Para Influencer dan Artis Ramai-ramai Kasih Bantuan ke Anak Maling Ayam

fenomena fomo ke anak maling ayam
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Threads
Pinterest
Telegram

Artis dan beberapa influencer lebih fomo ke anak maling ayam karena wajahnya cantik ya kan? Kedok nolong tp pilah pilih. Kalo wajahnya ngga ngejual di publik ngga bakal dibantuin

Pengen nyebut ini sebagai bukti kalau beauty privilege itu emang nyata. Nyari foto atau video anak-anak Bapak Satpam yang dibunuh di waduk Jatiluhur susah banget. Foto ini aja hasil screenshot dari video KDM. Itu pun kameranya cuma nggak sengaja lewat beberapa detik, terus dipause biar bisa di-screenshot. Bayangin, segitu minimnya exposure yang mereka dapat.

Sementara di kasus anak yang ayahnya meninggal saat maling ayam, beritanya meledak ke mana-mana. Salah satu penyebabnya? Banyak orang yang salfok sama wajah anak dan ibunya. “Cantik”, “imut”, “kulitnya bersih”, dan komentar sejenis langsung memenuhi media sosial.

Semakin banyak yang salfok, semakin banyak yang videoin. Semakin banyak yang videoin, semakin banyak yang share. Ujung-ujungnya makin banyak orang yang tahu kisah mereka, ikut berempati, bahkan ikut membantu. Artis dan beberapa influencer juga banyak yang ngontenin.

Terus gue mikir, kenapa anak-anak Bapak Satpam ini nggak dapat perhatian sebesar itu? Padahal mereka juga kehilangan ayah. Adiknya masih SD, kakaknya masih SMA. Seorang istri juga kehilangan suami.

Cara ayah mereka meninggal jauh dari kata biasa

Beliau cuma menjalankan tugas. Satpam dengan gaji sekitar Rp4 juta sebulan, bekerja menjaga aset vital negara. Saat berusaha mengusut pelaku yang mencoret-coret kawasan waduk tempatnya bertugas, beliau justru dibunuh secara brutal. Ditemukan di dalam waduk dengan tangan diborgol ke belakang, mulut dilakban, lalu dibuang ke air. Sampai sekarang para pelakunya pun belum tertangkap.

Harusnya ini jadi perhatian besar.

Gue nggak cuma berharap keluarganya dapat bantuan materi. Yang lebih penting, mereka juga layak mendapat exposure yang cukup supaya kasusnya terus dikawal sampai benar-benar tuntas.

Bahkan CCTV di lokasi kejadian saja disebut tidak ada. Padahal itu kawasan waduk yang merupakan aset vital. Kok bisa pengawasannya minim? Penerangannya juga minim? Lalu tanggung jawab pengelolanya bagaimana?

Dan sebelum ada yang salah paham, gue sama sekali gak iri dengan bantuan yang diterima anak di kasus maling ayam. Itu rezeki mereka, semoga bermanfaat dan membawa kehidupan yang lebih baik.

Yang gue sayangkan adalah kenapa perhatian publik bisa berbeda sejauh ini. Kadang empati kita ternyata nggak murni datang karena melihat penderitaan seseorang, tapi baru muncul setelah ada sesuatu yang menarik perhatian mata.

Kalau wajah anak Bapak Satpam ini juga kebetulan sesuai standar yang bikin netizen langsung salfok, entah cantik, ganteng, atau fotogenik, gue yakin videonya bakal diunggah berkali-kali, fotonya viral di mana-mana, kisah hidupnya dibahas terus, dan mungkin lebih banyak orang datang memberi dukungan.

Sering kali, perhatian datang lebih dulu karena visual. Baru setelah itu, orang mulai peduli pada ceritanya.

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Threads
Pinterest
Telegram

Leave a Reply

Ikuti Kami :

Berita Serupa

Berita Terbaru

Tag Berita