Gempa M7,7 Guncang NTT, 38 Orang Meninggal dan Ribuan Warga Mengungsi

Gempa M7,7 Guncang NTT, 38 Orang Meninggal dan Ribuan Warga Mengungsi
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Threads
Pinterest
Telegram

Nusa Tenggara Timur — Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.24 WIB. Guncangan kuat tersebut menimbulkan kerusakan di sejumlah wilayah dan menyebabkan puluhan warga meninggal dunia.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi jumlah korban jiwa terus bertambah. Hingga Sabtu pukul 15.00 WIB, tercatat 38 orang meninggal dunia, dua orang mengalami luka berat, 11 orang luka ringan, sementara sekitar 2.000 warga mengungsi secara mandiri.

“Korban terdampak yang pertama adalah korban jiwa sampai dengan pukul 15.00 sore ini, terdata ada 38 jiwa yang meninggal dunia. Kemudian dua jiwa luka berat, 11 luka ringan, serta kurang lebih 2.000 jiwa mengungsi secara mandiri,” ujar Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto.

Akses Jalan Terganggu, Fasilitas Umum Rusak

Selain menimbulkan korban jiwa, gempa juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah infrastruktur dan fasilitas umum.

Sejumlah ruas jalan antardaerah dilaporkan tertutup material longsor. Kondisi tersebut mengganggu mobilitas warga sekaligus menyulitkan proses evakuasi dan penyaluran bantuan ke wilayah yang terdampak.

Kerusakan juga terjadi pada fasilitas kesehatan. Sejumlah puskesmas dilaporkan mengalami kerusakan fisik, sementara satu unit rumah sakit di kawasan Maumere turut terdampak.

Di sektor permukiman, puluhan rumah warga mengalami kerusakan dengan tingkat kerusakan bervariasi, mulai dari ringan, sedang hingga berat.

Dipicu Sesar Naik Busur Belakang Flores

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di laut, sekitar 36 kilometer arah timur laut Nagekeo, dengan kedalaman yang tergolong dangkal.

BMKG menyebut gempa tersebut dipicu aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust), salah satu struktur sesar aktif yang berada di kawasan tersebut.

Gempa utama sempat memicu peringatan dini tsunami karena adanya perubahan muka air laut di sejumlah wilayah pesisir. Namun, peringatan tsunami kemudian diakhiri setelah kondisi muka air laut kembali normal.

Guncangan juga masih diikuti gempa susulan. Hingga Sabtu siang, tercatat lebih dari 37 kali gempa susulan dengan kekuatan berkisar antara M3,6 hingga M6,2.

Mengingatkan Kembali Tragedi Gempa Flores 1992

Gempa kali ini kembali mengingatkan masyarakat terhadap sejarah kegempaan di kawasan busur belakang Flores yang memiliki potensi menghasilkan gempa kuat dan tsunami.

BMKG mencatat kawasan tersebut memiliki rekam jejak gempa bumi besar. Salah satunya adalah gempa berkekuatan sekitar M7,5 yang disertai tsunami dan melanda wilayah Flores pada 1992.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu bencana gempa dan tsunami paling mematikan dalam sejarah modern Flores. Karena itu, gempa terbaru di kawasan yang sama menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan tim penanggulangan bencana.

Saat ini, tim gabungan yang terdiri atas BNPB, BPBD, Kementerian Pekerjaan Umum, TNI dan Polri masih melakukan penanganan darurat. Penyisiran juga terus dilakukan, terutama ke wilayah yang sulit dijangkau akibat akses jalan terganggu.

Petugas memprioritaskan pencarian dan evakuasi korban, penanganan warga yang terluka, pembukaan akses menuju daerah terisolasi, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang mengungsi.

(PRAY FOR NTT)

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Threads
Pinterest
Telegram

Leave a Reply

Ikuti Kami :

Berita Serupa

Berita Terbaru

Tag Berita